Hujan turun deras. Petir menyambar dan angin menerpa deras. Aku terkadang mendengar suara pekikan kaget orang orang yang baru tinggal disini, yang kaget mendengar petir menggelegar sekeras ini, hujan yang mengguyur sederas ini dan angin yang menerpa secepat ini.

Tapi tidak bagi kami, warga asli daerah ini. Kota hujan. Bagi kami hujan adalah ruh di kota ini. Hujan selalu dinantikan kedatangannya, sederas apapun tetap jadi indah dan derai tetes air menjadi musik bagi kami. Seperti bisa mengguyur pekatnya dosa yang membumbung panas,dan meneduhkan amarah yang terik membakar. Karena itu aku menyukai hujan.

 

Ada yang bilang cerita adalah bagian dari kehidupan. Tapi, ah tidak. Bagiku kehidupan itulah alur cerita yang sangat panjang. Kadang malah tak kunjung usai. Akupun memilih mengikuti alur ceritanya.

Sedihkah?? Kukira bukan. Yang terasa bagiku hanyalah setetes darah yang mengalir disela sela luka yang panjang yang memabg masih basah. Deritakah?? Kukira bukan. Ini hanyalah bagian dari pilihan yang kau ambil antara masa lalu dan masa depan. Mencintai, membenci, mencintai kebencian ataupun membenci cinta. Semuanya sama. Tak ubahnya air, yang kemarin hanya mengisi kubangan, hari ini menguap di langit, dan besok turun kembali menjadi hujan.

Itulah perasaan. Kadang tak ubahnya rantai hidup, seabadi roda samsara. Kau terlahir untuk mencinta. Cinta itu membawamu melalui duka, derita panjang, ataupun sengsara, tapi tetap ia adalah cinta. Zat bersih yang tak akan lapuk oleh noda noda kotor hawa nafsu dan hampa oleh kosongnya jiwa. Ia indah dan ia akan selalu kembali dalam keadaan indah. Tak perlu tanya, tak perlu bukti, dan tak perlu adanya ekspektasi. Ia memang begitu adanya.

Melupakan? Apa gunanya? Membohongi nurani? Membodohi akal? Tak perlu.

Biarlah, biarlah, biarlah saja. Biarlah apa yang tercabik oleh luka luka akan hancur sendiri, akan sembuh sendiri, akan terbebas sendiri. Dimana aku tak perlu lari,tak perlu bertanya, tak perlu melupakan. Tak perlu repot repot menggantikan.

Kuharap hujan bisa turun jatuh membebaskan semua dosa kami di bumi. Kesedihan kami, hawa nafsu kami, dan apa yang harus diikhlaskan akan sanggup diikhlaskan.

 

 

Malang,16 November 2015 saat hujan turun deras. Di sela sela tugas kimia, matematika dan biologi. Di perpustakaan sekolah.

Kadang pernah kah engkau bertanya? Apakah cinta? Apakah hidup? Apa gunanya semua itu?

Tidak, aku memang bertanya, tapi aku tak menyindir diriku. Yang sudah ya sudah, biarlah lewat. Biarkan berlalu. Tapi sejauh itu, cinta masih misteri bagiku. Mereka bilang cinta itu hanya bisa dirasakan saja. Tapi apa yang membuatmu begitu yakin bahwa yang kau rasakan? Tidakkah lebih baik kalau kau mengira itu hal lain? Transformasi dari kedewasaanmu mungkin? Dorongan hormon belaka? Perasaan mengidolakan? Perasaan kerinduan untuk melengkapi jati diri?

Mengapa kau memilih menyebutnya cinta?

Aku masih bingung akan cinta. Kerinduan kita akan apakah? Cinta macam apa yang tega membunuh? Merampok? Memerkosa? Cinta macam apa yang menimbulkan luka hati dan derita panjang?

Hal yang paling ironis tentang cinta adalah kau tak butuh apapun untuk bisa semudah itu mengungkapkan cinta. Ia rumit, bukan?

 

Baiklah untuk itu aku tak akan seberani itu mengungkapkan cinta. Aku lebih suka menyebutnya kerinduan. Yah. Manusia terlahir untuk melengkapi, tapi disisi lain mereka harus saling membebaskan. Dan disini aku berada di sisi lagu yang dulu membuatku tercabik cabik, kini membuatku rileks. Ya. Pada orang yang kurindukan. Yang selalu ku lihat apakah ia senang apakah ia bahagia, apakah ia tersenyum? Kemarin aku merasa kita beresonansi lagi. Aku memandang sungai yang cantik mengalir. Mengalir penuh hidup, dan tiba tiba terasa kuingat dirimu lagi. Entah pada sudut hati bagian mana, aku merasa kau ada. Kau di sisiku, kau bersamaku. Tapi buruknya kau sedih. Tak ada yang sepertiku. Tak ada yang bisa menyamaiku. Tak ada sejauh apapun kau mencari, dan itu membuatmu merindukanku. Sedih, dan sakit. Dilemamu, hatimu, egomu bercampur mengaduk jiwamu. Antara mengutuk pertemuan kita, mengharapkan pertemuan kita, merindukan pertemuan kita.

Ya, sebagian adalah salahku. Separuh dari dukamu adalah resonansi yang kau rasa dari ketakutanku. Takut bahwa bila waktunya tiba kau takkan berjumpa padaku. Bahkan tanpa mengucapkan selamat tinggal. Kebodohan masa lalu.

Tapi aku yakin,tapi aku ingat, tapi aku sadar. Kepompong akan tumbuh dari sela sela kulitku, saatnya berdiam diri telah tiba. Engkau?

Kekasih percayalah cinta atau bukan, hati akan selalu kembali. Ia kembali padamu. Cinta atau bukan, waktu hanyalah ilusi. Cinta atau bukan, yang merupakan milikku akan kembali padaku. Maka bacalah. Maka bacalah pesanku padamu. Maka pahamilah bahwa cinta atau bukan, segalanya juga akan kembali pada Sang Maha Cinta. Yang memberikan kita nafas dan perasaan untuk saling mengenal.

Maka bila saatnya tiba, tunggu saya. Kita akan bertemu kembali. Tidak sekarang, tidak disini.

Pada point dimana sang waktu bertemu antara awal dan akhir, ujung dan ekor. Pandanglah dibalik mataku. Percayalah bahwa cinta atau bukan, ia akan selalu menemukan jalan pulang.

Dalam hidup, kini, nanti dan selamanya.

 

Continue reading “hidup. cinta. keduanya”

Aku? Saya adalah seorang pembosan,seorang pEmbosan yang luar biasa. Saya ingin mnulis, tapi aku tak tahu apa yang harus dikatakan.

Aku terkadang merasa bahwa seglanya itu terasa semu dan bodoh. Tidak real, tidak banyak gunanya.

Seperti sekarang ini saya menunggu. Dari dua jam. Di kursi yang sama. Hany memandng orang berlalu lalang tanpa melihat siapapun yang lain. Bukan bosan lagi mungkin. Tapi mulai jengkel.

Pria yang kutunggu mengabaikan pesanku selama empat puluh menit. Aku harap ia berada di perjalanan. Masih bertanya tanya kapan ia datang. Sampai akhirnya aku mendapat pesan di hp ku.

“Dimana Asraf?”

Kubalas singkat.

“Aku masih menunggunya sejak duajam. Dia bilang dia di jalan.”

“Jalan yang mana?ini tidak lucu. Asraf meninggalkan rapat kami dengan dalih menemuimu bahkan tiga jam yang lalu. Bagaimana mungkin kau bahkan masih menunggunya?”

Aku tertegun. Jadi begitu. Ini tidak lucu lagi,pikirku.

“Asraf berbohong kalau begitu. Saatnya pulang.” Balas pesanku singkat.

Dengan langkah gontai aku berjalan. Menyingkir dari penantianku. Dia tak ada lagi. Kali ini cukup. Sepertinya apa yang ada antara kami memang hanya penantian. Asraf yang kukira cukup baik dan senang memperkenalkanku pada teman temannya, termasuk Lenatia yang barusan mengirim pesan, sebenarnya tak pernah serius. Bukan pertama kalinya. Penantian tanpa ujung. Mungkin ujungnya memang disini. Kesia-siaan. Akhiri saja.

simple page (about me)

Me?

aku bukan siapa siapa. Dan selamanya kadang kadang aku ingin begitu ak ingin jadi bukan siapa siapa. Tidak, tidak demikian. Aku bukan seorang pesimis. Aku adalah manusia yang terlahir normal seperti semua orang. Kadang dalam menyertakan ‘about me’ orang orang akan menulis tentang nama, hobi, cita cita dan basa basi lainnya tanpa menyertakan perannya dalam dunia ini.

Siapakah saya? Apakah sekedar sarabila? Apakah hanya seorang mahasiswa? Apakah hanya sesosok manusia? Apakah malah bukan siapa siapa dan bukan apa apa? Ya. aka lebih suka alternatif terakhir. Saya pernah ingin menjadi manusia super yang populer, serba bisa dan jenius, dan punya banyak fans, tapi kemudian saya belajar lebih banyak dan menemukan bahwa semua itu, tak ada gunanya. Saya ingin menjadi diri saya. Saya saja.

puisi (aku tidak berbakat menulis puisi tapi aku ingin mencoba)

Tentang Hidup.

Bila Chairil Anwar ingin hidup seribu tahun lagi

Aku hanya ingin hidup sebelum mati.

Aku ingin merasakan hidup

Ingin merasakan pahitnya kemenangan

Ingin merasakan debur ombak mengguyur mimpi-mimpiku

Ingin merasakan derasnya ombak melarutkan tubuh fanaku

Ingin membiarkan langit melambungkan kepedihanku

Dalam mega putih yang seakan tak tahu dosa dosaku

Aku ingin mati

InginĀ  merasakan ironisnya tikaman belati kebahagiaan

Ingin merasakan kerasnya tamparan kesukacitaan

Yang membuatku terlena dalam dunia nyata

Aku ingin memberi, aku ingin meminta

Aku ingin memuji, aku rela menghina

Sebagai mana lingkaran yang tiada pernah terputus

Antara hidup dan mati