poem and story

love is empty

and i tried to find you in someone else and i get lost

Advertisements
poem and story

kuatlah dalam perjalanan pulangmu

Disinilah kamu berada. Luka nan perih dan nyata. Waktunya kembali. Tidak merenung tanpa mengobati.

Kuatlah dalam perjalanan pulangmu. Menembus dimensi waktu, melangkahi ruang nan fana. Disinilah kamu berada.

Badai akan menerpamu. Sakit pedih dan menakutkan. Tapi tidak ada jalan lain. Seperti papan loncat yang kamu takuti untuk lambungkan, tidak ada pilihan lain.

Tuhan akan bersamamu. Mendampingimu dengan kasih dan harapan. Percayalah saja. Semoga jalan pulang ini memberi damai hatimu.

Sudah terlalu jauh engkau melangkah. Saatnya pulang ke rumah. Kini.

poem and story

embrace this silence

Hujan turun deras. Petir menyambar dan angin menerpa deras. Aku terkadang mendengar suara pekikan kaget orang orang yang baru tinggal disini, yang kaget mendengar petir menggelegar sekeras ini, hujan yang mengguyur sederas ini dan angin yang menerpa secepat ini.

Tapi tidak bagi kami, warga asli daerah ini. Kota hujan. Bagi kami hujan adalah ruh di kota ini. Hujan selalu dinantikan kedatangannya, sederas apapun tetap jadi indah dan derai tetes air menjadi musik bagi kami. Seperti bisa mengguyur pekatnya dosa yang membumbung panas,dan meneduhkan amarah yang terik membakar. Karena itu aku menyukai hujan.

 

Ada yang bilang cerita adalah bagian dari kehidupan. Tapi, ah tidak. Bagiku kehidupan itulah alur cerita yang sangat panjang. Kadang malah tak kunjung usai. Akupun memilih mengikuti alur ceritanya.

Sedihkah?? Kukira bukan. Yang terasa bagiku hanyalah setetes darah yang mengalir disela sela luka yang panjang yang memabg masih basah. Deritakah?? Kukira bukan. Ini hanyalah bagian dari pilihan yang kau ambil antara masa lalu dan masa depan. Mencintai, membenci, mencintai kebencian ataupun membenci cinta. Semuanya sama. Tak ubahnya air, yang kemarin hanya mengisi kubangan, hari ini menguap di langit, dan besok turun kembali menjadi hujan.

Itulah perasaan. Kadang tak ubahnya rantai hidup, seabadi roda samsara. Kau terlahir untuk mencinta. Cinta itu membawamu melalui duka, derita panjang, ataupun sengsara, tapi tetap ia adalah cinta. Zat bersih yang tak akan lapuk oleh noda noda kotor hawa nafsu dan hampa oleh kosongnya jiwa. Ia indah dan ia akan selalu kembali dalam keadaan indah. Tak perlu tanya, tak perlu bukti, dan tak perlu adanya ekspektasi. Ia memang begitu adanya.

Melupakan? Apa gunanya? Membohongi nurani? Membodohi akal? Tak perlu.

Biarlah, biarlah, biarlah saja. Biarlah apa yang tercabik oleh luka luka akan hancur sendiri, akan sembuh sendiri, akan terbebas sendiri. Dimana aku tak perlu lari,tak perlu bertanya, tak perlu melupakan. Tak perlu repot repot menggantikan.

Kuharap hujan bisa turun jatuh membebaskan semua dosa kami di bumi. Kesedihan kami, hawa nafsu kami, dan apa yang harus diikhlaskan akan sanggup diikhlaskan.

 

 

Malang,16 November 2015 saat hujan turun deras. Di sela sela tugas kimia, matematika dan biologi. Di perpustakaan sekolah.